Cerpen


Pengertian Cerpen

Menurut Edgar Allan Poe, "Cerpen adalah sebuah cerita yang selesai dibaca dalam sekali duduk, kira-kira berkisar antara setengah sampai dua jam."

Menurut Tarigan, "Cerpen adalah cerita rekaan yang  masalahnya  jelas, singkat, padat dan terkonsentrasi pada satu cerita. Jadi, sangatlah jelas bahwa kelebihan cerpen yaitu kemampuannya dalam mengemukakan secara lebih banyak dan implisit dari sekedar  apa  yang  diceritakan dan  mengandung  kesan  tunggal."

Menurut Burhan Nugiyantoro, "Cerpen adalah cerita sebagai sebuah narasi  berbagai kejadian yang sengaja disusun berdasarkan urutan waktu."

Jadi, dapat disimpulkan bahwa  cerpen adalah karya sastra yang memaparkan kisah ataupun cerita tentang manusia beserta seluk beluknya lewat tulisan pendek. Atau merupakan karangan fiktif yang isinya sebagian kehidupan seseorang atau juga kehidupan yang diceritakan secara ringkas yang berfokus pada suatu tokoh saja.

Unsur Intrinsik Cerpen

  1. Tema, adalah permasalahan utama yang menjiwai seluruh cerita/karangan. Tema dapat ditemukan dengan mengidentifikasi konflik yang terdapat dalam cerita tersebut. Tema biasanya dirumuskan dalam kalimat/pernyataan yang singkat & padat.
  2. Amanat, adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca. Amanat dalam cerita bisa berupa nasihat, anjuran, atau larangan untuk melakukan/tidak melakukan sesuatu. Yang jelas, amanat dalam sebuah cerita pasti bersifat positif.
  3. Latar, adalah segala keterangan mengenai waktu, ruang, dan suasana terjadinya lakuan/peristiwa dalam cerita. Latar terbagi menjadi tiga, yaitu Latar waktu, Latar tempat, dan Latar suasana
  4. Sudut pandang, adalah posisi pengarang dalam ceritanya. Bisa jadi ia menjadi tokoh dalam ceritanya tersebut (pengarang berada di dalam cerita). Namun, bisa juga dia hanya menjadi pencerita saja (pengarang berada di luar cerita). Sudut pandang dibagi menjadi tiga, yaitu Sudut pandang orang pertama, Sudut pandang orang ketiga, dan Sudut pandang campuran.
  5. Tokoh, adalah individu rekaan yang mengalami peristiwa atau berkelakuan (memiliki sifat/watak) di dalam berbagai peristiwa dalam cerita.Berdasarkan peranannya dalam cerita, tokoh dibedakan menjadi tiga yaitu tokoh utama, tokoh pembantu, dan figuran.Sedangkan berdasarkan wataknya, tokoh dibagi menjadi tiga, yaitu tokoh protagonis (tokoh baik), tokoh antagonis (tokoh jahat), dan tokoh tritagonis (tokoh penengah)
  6. Penokohan, adalah cara pengarang dalam menyajikan/menggambarkan watak tokoh dan penciptaan citra tokoh.Penokohan secara umum dibedakan menjadi dua, yaitu Penokohan secara langsung (analitik) dan Penokohan secara tidak langsung (dramatik).
  7. Alur, adalah rangkaian/jalinan antar peristiwa/ lakuan dalam cerita.Sebuah cerita sebenarnya terdiri dari berbagai peristiwa yang memiliki hubungan sebab -akibat.
  8. Gaya bahasa, adalah cara pengarang mengungkapkan ceritanya melalui bahasa yang digunakan.Setiap pengarang memiliki gaya masing-masing. Ahmad Tohari, misalnya, dia banyak menggunakan kalimat-kalimat yang indah dan kuat untuk mendeskripsikan latar dalam ceritanya.

Berikut contoh cerpen :

Aku dan Perasaanku

Apakah aku tak pantas untuk mencintainya?
Apakah aku tidak berhak untuk mendapatkan sedikitpun rasa itu,
setelah semua yang sudah aku lakukan terhadapnya?
Lalu di mana keadilan itu?

          Kriiiiiiing...........kriiiiiiiiiiiing. Dering alarm itu membuatku terjaga dari tidur nyenyakku. Dengan berat hati,aku bangkit dari tempat tidurku. dengan mata yang masih belum siap untuk dibuka, aku menuju kamar mandi.Kuambil air untuk membasahi wajahku, “Ah segarnyaa”. Segera aku mengambil air wudhlu dan melaksanakan kewajibanku. Aku pun berdoa kepada-Nya agar diberikan yang terbaik untuk hari ini.

          Namaku Fira. Sekarang aku duduk di bangku putih biru dan dalam proses putih abu-abu. Masa dimana seseorang sudah tidak bisa dibilang anak kecil lagi. Dan dalam tahap pendewasaan diri. Aku mempunyai banyak teman, sahabat, dan orang-orang yang aku sayangi. Diantaranya akan kuceritakan disini.

         Aku selalu memperhatikannya. Dia Chandra, sahabatku. Menurutku dia sangat sempurna, dengan senyum dan sikapnya yang membuatku selalu merasa kagum. Diaadalah yang terbaik dari dulu hingga saat ini.

      Tetapi senyumnya yang dulu telah hilang, entah siapa yang telah mencurinya. Bahagia rasanya bila dia mau berbagi denganku, walaupun hanya sebagai orang yang selalu mendengar keluh kesahnya, aku senang, dengan begitu aku akan merasa selalu dekat dengannya. Tapi entah kenapa walau merasa dekat, aku merasa dia berada jauh disana. Di tempat yang mungkin tak bisa aku capai.

Tiba-tiba handphoneku bergetar, aku terkejut hingga aku hampir terjatuh dari tempat dudukku. Ternyata, aku menerima sms darinya. Chandra.

From   : Chandra
Fira...
          Entah apa yang membuatnya mengirim sms kepadaku yang sedang duduk termenung memikirkannya.

To        : Chandra
Hai..
From   : Chandra
Lagi Ngapain Fir?  
To        : Chandra
Lagi santai aja.
Oh ya, bagaimana hubungan kamu sama dia? Baik-baik aja?

          Sebenarnya jauh di dalam hati aku tidak sanggup menanyakannya, karena aku tahu semua itu akan membuat hatiku semakin terluka. Tapi apa boleh buat, aku ingin tau penyebab hilangnya senyum Chandra akhir-akhir ini. Aku ingin melihatnya tersenyum seperti sediakala, karena dengan senyumannya hatiku akan jauh lebih tenang.

From   : Chandra
Ada masalah Fir
To        : Chandra
Masalah? Maksudnya?
From   : Chandra
Ya udahlah, nggak usah dibahas.

          Aku hanya terdiam membacanya . Tidak adakah tempat di hatinya untukku? Dapatkah dia memberikan hatinya padaku agar aku selalu menjaganya? Tapi, sepertinya semua itu tidak mungkin terjadi.

“Fira, sms-an sama siapa sih? sampe lupa kalo kita ada tugas, ngerjain bareng yuk.”

          Aku dikagetkan oleh suara temanku, Elisa. Kebetulan rumah kami berdekatan, sehingga dia sudah biasa langsung masuk ke rumahku.

“Eh, Nggak kok. Oh iya, aku juga ada yang nggak faham tentang pelajaran disekolah tadi, ayo kita kerjain bareng.”
“Sms-an sama siapa sih? Serius banget.”
“Nggak siapa-siapa kok, aku ambil bukunya dulu ya.”                    
“Okey.”
            Setelah selesai mengerjakan tugas, Elisa pamit untuk pulang. Dan aku sendiri masih memikirkan semua kata-katanya yang Chandra kirimkan lewat sms tadi.
“Aku pulang dulu ya fir, jangan ngelamun terus.”
“Iya iya.”
          Aku masih merenungkan semuanya, semua tentangnya. Chandra. Dan  lagi-lagi handphoneku bergetar. Aku yakin, itu pasti Chandra. Aku bergegas membukanya.
From   : Chandra
Semua telah berakhir
To        : Chandra
Apanya Dra?
From   : Chandra
Hubunganku dengannya.
To        : Chandra
Apa kamu masih mencintainya?
From   : Chandra
Sampai saat ini masih.
To        : Chandra
Apa yang kamu fikirkan! rebut dia kembali. Aku yakin dia juga masih sangat mencintaimu.

          Hari-hari berikutnya, aku melihat kembali senyuman itu. Senyuman yang selalu membuatku merasa tenang. Tetaplah seperti ini.
Aku ingin melihatnya tersenyum meski bukan untukku.
Aku ingin melihatnya selalu tertawa meski bukan karenaku.     
Aku ingin melihatnya selalu bahagia meski bukan bersamaku.

          Kata-kata inilah yang selalu membuatku merasa tegar dan kuat berdiri di hadapannya dengan tetap tersenyum.

Belajar Dari Kesalahan Sederhana

          Suara Adzan Subuh yang berkumandang merdu di telinga dan hawa dingin yang  merasuki dunia malam mimpiku memaksa serta membuatku harus rela untuk membuka indra penglihatanku. Dengan berat hati kupaksakan mataku membuka pelan dan tubuhku supaya bangkit dari tempat tidurku,dengan mata yang masih berkedip-kedip dan langkah kaki bak seorang pemalas menuju kamar mandi, kuambil air wudlu  kemudian sesegera mungkin menunaikan kewajibanku, tak lupa aku memohon kepada-Nya semoga diberikan yang terbaik hari ini.

          Namaku Serly, aku adalah seorang pelajar remaja kelas 2 SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA faforit di wilayah tempatku tinggal. Aku punya banyak sahabat yang selalu ada di setiap curahan perasaanku. Mungkin bagiku, inilah hari yang paling spesial di hidupku. Inilah hari Kelahiranku, hari ini bertepatan dengan ulangan praktek Drama B.Inggris akhir tahun kelas 11. Ku ambil benda kotak Batangan Nokia Asha 305 yang berlatarbelakang sebuah gambar persahabatan, dengan gerak cepat kubuka kuncinya dan 3 pesan masuk dari sahabat-sahabatku,mereka adalah Dina, Laura, dan Firda. Mereka mengucapkan ucapan Ulang Tahun kepadaku tepat tengah malam. Aku bahagia karna ini. Kuharap inilah hari terbaik. “Bismillah..” ucapku dalam hati. Tak lama kemudian aku telah siap untuk pergi ke tempat kesayanganku yang kedua.

“Assalamualaikum,” Kucium tangan kedua orang tuaku yang mulai kusut dan kasar karena termakan usia.
“Wa'alaikumsalam, hati-hati ya” begitulah kata Ibu.
***
          Ku turun dari sepedaku dan berjalan memasuki pintu gerbang sekolah, kuulurkan tanganku untuk berjabat tangan dengan orangtuaku yang kedua disini, kucium telapak tangannya yang masih berasa segar, dan setelah itu kulanjutkan perjalananku menuju parkiran sepeda bersama kawanku, Sari.

          Aku memasuki kelas, mereka sahabat dan temanku lainnya tak berucap apa-apa, mungkin mereka lupa atau memang tak mengetahuinya. Aku tak peduli. Sudahlah, apa pentingnya diriku disana. Mungkin aku tak berarti apa-apa. Kurebahkan tubuhku di kursi, kulepas tas dari punggungku dan kuambil kertas yang bertuliskan “Bawang Merah Bawang Putih”. Kuulangi beberapa dialog yang memang menjadi peranku, kulatih hingga lanyah di luar kepala supaya tak kacau  nantinya.

          Suara hentakan kaki dan deru nafas segar terdengar seperti mendekatiku. “HBD serly” suara Vina. Ya, dia juga sahabatku. Kemudian disusul mereka yang mungkin mendengar ucapannya, “HBD ya” ucap teman lainnya diiringi doa sederhana dari mereka yang ditujukan untukku. Tak ada yang lain, hanya itu, hanya mereka yang dekat denganku. Disamping itu aku juga ingin berjabat tangan dengan seseorang, dia yang dulu pernah ada. Ingin sekali dia mengucapkan dengan ucapan yang sederhana dan doa-doa sederhana dari kata-kata yang dilontarkan dengan ikhlas dari lubuk hatinya untukku. Tapi tak apa. Aku tidak ingin berharap lebih yang kemudian akan membuatku merasa sesak di dada.

          Aku teringat kembali memori 3 bulan silam. Waktu  dia dulu pernah ada mengisi hari-hariku yang memang membuatku merasa nyaman dan merasakan sesuatu yang memang asing bagiku, dia selalu membuatku merasakan kebahagiaan yang cukup sederhana. Dan saat dia mengatakan semuanya, kejujuran hatinya dulu tanpa ada jawaban dariku yang mungkin cukup membuat dia mengerti atau malah membuatnya bahagia. Entah jin apa yang membisikiku hingga sesaat setelah itu, aku membencinya. Hubungan kami cukup sederhana serasa seperti dulu,  kami seperti tak pernah kenal. Ya, namanya Sendy.

          Aku belum sempat meminta maaf kepadanya, mungkin malaikat Atid selalu sibuk mencatat semua perbuatan burukku yang kulakukan selama ini. Entah berapa banyak buku malaikat Atid yang dibutuhkan untuk menuliskannya. Aku masih tak peduli, semua pasti ada jalan keluarnya,dan aku mantap akan hal itu. Mungkin seseorang berfikir dangkal bahwa aku malu memilikinya atau aku tidak pernah mempunyai perasaan yang sama. Cukup bodoh memang jika aku meminta maaf dan menjelaskan semua perasaanku. biarlah semua hilang dan berlalu, aku hanya butuh penerimaan ma’afnya yang ikhlas saja. Hanya itu.
***
          Ingin sekali rasanya aku memeluk sahabat-sahabatku, menceritakan semua unek-unekku yang memang kukubur dalam-dalam, tapi kucoba untuk menahan semuanya, menahan setiap omong kosongku yang pasti akan membuat mereka tertegun dan menyalahkanku.

“HBD sahabatku…” kata Laura dan Dina mengulangi kata keduanya setelah mengucapkanku langsung tengah malam itu. Ya, mereka sahabat terbaikku, dan mereka juga selalu ada untukku.

“Iya… makasih ya sahabatku” kukedipkan sebelah mataku dan menyunggingkan senyum manisku untuk mereka.

          3 bel berbunyi nyaring di telinga kami, hingga kami juga harus menyiapkan pentasan drama kami. Tak lama setelah itu semua berakhir begitu saja. “Alhamdulillah….”Ucapku dalam hati. Beban demam panggung karna Drama B.Inggris sedikit membuatku damai, walaupun mungkin memang belum sepenuhnya sempurna penampilanku, tapi setidaknya aku sudah berusaha.

          Hingga 2 bel nyaring terdengar di indra pendengaran kami. “traktirannya lho ser” suara dan kedipan mata Devi membangunkan kesadaranku dan membuat syaraf otakku yang memerintahkan kaki untuk segera memberanjak menyusul sahabat-sahabatku ke kantin. Aku juga tak lupa menyiapkan beberapa lembar uang kertas untuk menjajakan mereka. Kubuat wajahku seceria mugkin supaya mereka tak mengetahui semua rahasia hati yang selalu kupendam itu.

“Ayo dong. Sini-sini kita mau ditraktir Serly lho…” kata Dina diiringi gelak tawa sahabatku yang lainnya.
“Ehh,, gue mau cerita nih.. boleh gak?” kata Laura menghentikan gelak tawa kami sambil memajukan kepalanya mendekat dengan kami.
“apaan? Kayaknya serius gitu..” jawab Vina penasaran.
“iyaa,, gini, tadi malam dia tuh nyatain prasaannya ke gue, gue bingung nih.. tapii udah gue putusin kok , gak gue terima. Pengen fokus aja sama pelajaran, bentar lagi kan mau Ulangan Akhir.” Jawab Laura tanpa ragu-ragu.
“eh ngomongnya pelan-pelan dong,asal nylonong aje loe.. dia siapa sih ?” tanyaku.
“emmm,, Sendy” jawab Laura mantap.

          DEGG!! Sendy? Seketika itu aku kaget mendengar jawaban Laura,tapi aku juga bersyukur karena Sendy telah menemukan yang lebih baik segalanya dariku,dan dia tak lain adalah sahabatku sendiri,Laura. Aku berusaha menetralkan perasaanku dan mencoba untuk biasa saja.

“ha? Sendy, beneran? Tapi lo suka kan?” tanya Vina dengan mata yang dibiarkan melotot dan bibir yang membentuk huruf “O” itu.
“Emm, dia tuh udah lama deketin gue,dia juga buat perasaan gue nyaman sama dia.. gue suka,tapi belom bisa. Aku takut dia jauh nantinya sama gue” jawab Laura dengan memasang mimik muka yang mulai sedih.

          DEGG!! Sama!! Sama seperti aku dulu, hanya saja caraku menolaknya yang kasar. Laura seharusnya kamu terima!! Ucapku dalam hati yang memang tidak akan didengar oleh mereka. Dan aku masih berusaha untuk menahan mulutku untuk tidak berucap keceplosan menceritakan semuanya. Biarlah semua terkubur di dasar hati dan tak ada yang tahu.
“Eh ser, lo kok diam aja sih ?” tanya Dina dengan mengerutkan keningnyanya  terhadapku.
          Suara Dina itu menghentikan lamunanku seketika. Aku tak tahu harus bagaimana, ingin sekali kuceritakan semuanya. Tak lama setelah itu tanpa pikir panjang lagi kuhirup nafas dalam dan kuhembuskan kembali lalu kuceritakan semua yang terjadi padaku, semua isi hati yang begitu saja terlontar keluar dari mulutku.
“Ohh, gitu ya ser.. gak apa-apa kok, tapi loe kok gak pernah cerita sih, tenang, nanti kita bantu loe minta ma’af deh..” kata Laura sembari memelukku.

          Ya, itu sedikit membuatku merasa lega dan aku bersyukur semua bayanganku tentang reaksi sahabatku yang kutakutkan itu ternyata salah, mereka bahkan mendukungku, termasuk juga Laura.

“Iya,, thanks ya kawan” lagi-lagi aku tersenyum karna sahabatku. Sesaat setelah itu  3 bel berbunyi nyaring di gendang telinga kami dan itu pertanda kami harus memasuki ruang kelas.
***
Sesaat setelah pulang sekolah,
“Eh Ser, ntar gue kasih nomernya deh, ngomongnya yang sopan ya.. jangan asal-asalan lagi. Kasihan kan dia-nya” kata Laura kepadaku.
“Hehe, iya-iya gue khilaf deh, gue nyesel nyakitin orang” jawabku dengan diiringi gelak tawa kami.
***
“Assalamualaikum……….” Kataku
          Terdengar sayup-sayup kaki melangkah menghampiriku dan suara dari dalam yang menjawab salamku, rupanya Ibu. “Waalaikum salam… “ kujabatkan tanganku ke tangan ibu. Setelah itu aku langsung pergi menuju tempat tujuanku. Kurebahkan tubuhku di tempat empuk yang biasa kugunakan untuk menghabiskan sisa waktuku dengan melepas lelah.

          Tak lama setelah itu aku dikejutkan oleh nyanyian Handphoneku lagu kepompong milik penyanyi Sindentosca, lagu yang mencerminkan persahabatan itu pertanda 1 pesan baru masuk untukku, dengan sigap kubuka pesannya, Laura mengirimkan sebuah nomer dan tertera nama si empunya “Sendy”.
Degg!!
          Tanpa basa-basi karena menuruti perasaan malu yang masih menyelimutiku, ku kirimkan begitu saja permintaan maafku pada Sendy, yang entah bagaimana jawaban itu nanti, tapi ku yakin dia mau menerima permintaanku yang terakhir kepadanya.

“Iya..” jawab Sendy yang mungkin belum ikhlas menjawabnya, mungkin juga dia telah membenciku kini. Ahh!! Aku tak peduli.
“Thanks ya.. gue minta maaf banget ya atas kesalahan gue selama ini sama elo” jawabku masih ragu-ragu mengirimnya.
“Iya, gak apa-apa kok” jawabnya kemudian, Aku kembali tersenyum dan bersyukur, semua kata-katanya membesarkan hatiku. Semua beban yang kurasakan selama ini mulai pergi bersama tenggelamnya matahari, aku tahu matahari akan muncul lagi, tapi  setidaknya itulah hari baru, akan  kuperbaiki semuanya, aku sadar aku terlalu berlebihan, aku akan belajar dari kebodohan dan kekeliruanku selama ini untuk bisa menjadi lebih matang. Karena tidak ada kedewasaan tanpa tempaan dan jatuh bangun. Justru kejadian inilah yang menjadi urat nadi hidupku. Mendapatkan pelajaran dari sebuah kisah sederhana yang mungkin tidak bermutu bagi orang lain. Terima kasih Tuhan, Terima kasih kawan.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar