وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ
الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ
اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا
يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya : “Dan carilah
pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat,
dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat
baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan
janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”
Kita menabur kebaikan
dimana saja karena itu juga salah satu cara kita untuk berterima kasih
kepada Allah yang juga berbuat baik kepada kita. Juga dapat menjadi kunci dalam
meraih berbagai keberuntungan dalam hidup, karena seseorang yang menanamkan
kebaikan, maka segera ia akan menuai hasilnya dengan sukacita. Demikian juga
orang yang menanam keburukan, pasti ia akan menuai hasilnya dengan penyesalan.
Diriwayatkan dari Abdullah ibn Amr :
“Siapa meminta perlindungan atas nama Allah, maka berilah
perlindungan. Siapa meminta atas nama Allah, maka berilah. Siapa yang meminta
pertolongan atas nama Allah, maka berilah pertolongan. Siapa yang memberikan
sesuatu yang baik kepadamu, maka balaslah. Jika kamu tidak membalasnya, maka
doakanlah dia, sehingga kamu tahu bahwa kamu telah memberikan balasan
kepadanya.”
Ada teman atau saudara yang tertimpa musibah, lalu kita
mendoakan dan membantunya, itulah kebaikan. Seseorang mengucapkan salam, lalu
kita menjawabnya, adalah kebaikan, dan seterusnya. Kita bisa menyebut kebaikan
lain yang dapat kita lakukan, yang berguna bagi diri sendiri dan orang lain. J


.jpg)